Thursday, August 16, 2018

Rumah Baru Kayu Tua Part II

Setelah kurang lebih setahun kami tinggal di rumah baru, alhamdulillah akhirnya mulai ada beberapa pembangunan di sekitar rumah kami. Salah satunya tetangga sebelah kami yang berbagi tanah dengan kami. Seneng banget rasanya akan punya tetangga. Tapi di lain sisi, kami sudah gak bisa leluasa lagi untuk piknik dan gulung-gulung sembarangan di halaman rumah..hahaa

Ada beberapa bangunan baru hingga saat ini. Alhamdulillah. Tapi yang tidak mengenakkan juga banyak. Pemborong maupun pemiliknya, yang paham toleransi, harusnya tahu bahwa ada kami tinggal di situ. Mentang-mentang hampir tidak ada rumah tinggal di sini, mereka meletakkan material seenaknya, bahkan di jalan yang akhirnya kami susah untuk lewat. Jika dipikirkan sisi negatifnya, masih banyak. Tapi lebih baik kami ambil sisi positifnya saja. Kami harus banyak bersabar tinggal di lingkungan yang memang belum terbentuk ini.

Tepat di awal 2017, kami sempat nomaden. Kadang menempati rumah kami sendiri, kadang menempati rumah kakak saya yang tidak jauh dari rumah kami. Kami mendapat amanat menjaga rumah mereka karena ditinggal sekolah ke Belanda bersama keluarganya.
Kami sudah punya beberapa resolusi di tahun ini dan tahun depan. Jika ada rezeki, dalam tahun ini kami melanjutkan pembangunan Rumah Baru Kayu Tua tahap II. Kami mulai menabung dan merencanakan pembangunan setelah lebaran tahun lalu. Setelah itu, kami akan mulai program anak kedua.

Maret-April 2017, Allah memberi kami lebih awal apa yang kami inginkan. Saya hamil anak kedua. Dan pembangunan rumah memang harus segera dilakukan agar nanti saat lahir, kami berempat sudah menempati rumah kami kembali. Anak-anak lebih nyaman dengan ruangan yang lebih lebar. Terutama kamar yang dulunya hanya satu kami tambahkan menjadi dua. Tepat setelah hari raya Idul Fitri, Rumah bayu kayu Tua tahap II dimulai.

Kami percaya bahwa Allah selalu berencana yang terbaik buat umatNya. dan kami yakin jika kita meminta dengan tulus, berusaha maksimal, Allah pasti mengabulkan. Entah sekarang, nanti, sesuai dengan doa kita atau dikabulkan dalam bentuk lain. Seperti sebelumnya, Allah memberi kami rezeki yang tidak terduga untuk rencana baik kami tersebut. Dari rencana yang awalnya rumah kami bangun kecil saja dengan adanya tambahan 1 kamar, ternyata pembangunannya selesai dengan 1,5 lantai. Full dak beton untuk pembangunan berikutnya. Kami paksa hentikan pembangunan karena kami masih butuh menabung untuk hal lain. Sedangkan kebutuhan kami bisa terpenuhi dengan ruangan yang sudah ada, tidak perlu lebih besar lagi. Belum saatnya, karena masih ada prioritas lain dalam rencana kami.

So, inilah penampakan Rumah Baru Kayu Tua Part II

Tampak Depan Rumah Baru Kayu Tua Tahap II
Ajmal & Mahir di halaman rumah kami
How's the interior?
Lets see.. berikut foto-foto interior rumah kami yang apa adanya. Tanpa ditata khusus untuk difoto yang keren dan sebagainya.. Foto diambil pagi hari setelah mandi sarapan dll.
Ruang Tamu
Ruang Tengah
Kamar Anak
Kamar Anak arah ke luar
Kitchen
Kitchen, Kamar Mandi dan Kamar (sebelah kanan) = Rumah Baru Kayu Tua Tahap I
View ke Jemuran area service
Area kerja (packing dagangan) dan Dining room (itu hitam seperti papan adalah meja makan lipat, anyway)
Well, sederhana tapi loveable and homey for us.
Alhamdulillah

Tuesday, August 14, 2018

What did we do in Rumah Baru Kayu Tua part 1

Terbatasnya ruang di rumah kami tidak menghalangi kami untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kamar yang kecil memang hanya cukup untuk tidur, sholat, ngaji. Dapur masih cukup longgar untuk masak, makan dan bekerja. Halaman yang luas ternyata menjadi wadah kami untuk beraktivitas. Bahkan untuk makan kami sering lakukan di luar seakan-akan kami piknik :) dengan kenyataan kanan-kiri rumah kami masih sawah. Saat itu belum ada tetangga. Masih ada rumah sih, tapi hingga no.13 saja dari jalan utama. Sedangkan rumah kami no.27 (260meter dari jalan utama).
These are some pictures that i still have about our activites in Rumah Baru Kayu Tua Part 1
PIKNIK ASik! Haha.. Keluarga besar semua bisa masuk di halaman kami :)

Main Air dan Mainan lainnya. Seru Max! That was Ajmal when he was 1 yo.

Main Bubble di malam hari, pagi hari..kapan saja.. gak usah takut ngotorin rumah.

Kalau lagi iseng di kamar, anak bisa buat mainan :)))
Foto-foto produk yang kami jual. Bebas ngebor sana-sini :D
Coba aja ya cek galeri omahkoe di tokopedia. Pasti foto-fotonya banyak di dinding ini
www.tokopedia.com/galeriomahkoe
Gardening! Sudah banyak macam sayuran yang kita panen waktu itu. Kangkung, bayam merah, caisim, selada.
Itu lah keasikan kami punya halaman luas. Alhamdulillah we are all happy!

Monday, August 13, 2018

Rumah Baru Kayu Tua Part 1

Rumah Baru Kayu Tua I

4 tahun lalu, Januari 2014 tepatnya, saya menikah. Dalam setahun tersebut banyak peristiwa senang sedih, tertawa, menangis, diam dan perasaan lainnya yang saya alami.
Tapi saya bersyukur bisa merasakan semua itu di awal pernikahan, sehingga semakin banyak pelajaran saya tentang kehidupan terutama berumah tangga.

Salah satu hal yang memorable saat itu adalah saya banyak menangis karena urusan pencarian rumah di saat kondisi hamil. Kami tertipu oleh developer gadungan saat itu. Kurang lebih 100 juta Rupiah.
Waktu itu kami menghabiskan semua tabungan kami, deposito hingga hutang orang tua. Singkat cerita kami berusaha mengikhlaskan semua setelah itu.

Beberapa bulan kemudian, kami mencoba mencari tempat tinggal kembali sesuai dengan budget yang ada. Itu pun sebagian besar akan berhutang, entah ke Bank, saudara, orang tua. Ternyata mencari rumah seperti mencari jodoh. Gak gampang. Tapi kalau ada niat akan dimudahkan oleh Allah. Dengan pertimbangan budget dan lokasi, akhirnya kami putuskan membeli tanah saja di lokasi yang cukup strategis meskipun sudah di luar Surabaya tapi masih perbatasan. Tidak jauh dari rumah orang tua dan masih terjangkau untuk suami bekerja. Tanah yang kami dapatkan berada di wilayah Wedoro PP, belakang perumahan Rewwin, Waru (Surabaya) dan menghadap langsung ke arah Tol Juanda Rungkut. Luasnya 10 x 20m2.
Tanah Kavling langsung menghadap Tol Juanda
Kavling no.27 --> calon rumah kami
Kondisi jalan. Itupun urugan dari kami urunan beberapa kavling yang mau bayar. Demi rumah pokoknya!
Pertengahan 2015 tanah tersebut resmi kami beli seharga Rp. 125.000.000,- dengan luas 5x20m2 (kami bagi dua tanah kavling tersebut dengan seorang Guru SD di dekat rumah Ibu yang juga sedang berjuang mencari tempat tinggal). Saking gak sabarnya, kami berencana langsung membangun. Setelah hitung-menghitung, kami ada uang 30 juta untuk membangun rumah. Hahaaa.. bisa ya uang segitu bangun rumah??

Matematika Allah canggih dan tidak akan bisa dinalar oleh manusia. Hitungan Allah ternyata beda dengan hitungan kami. Kenyataannya dalam beberapa bulan setelah itu kami sudah menempati rumah baru kami.

Kami mulai pengurugan jalan dan tanah kami di bulan September dan memulai membangun di bulan Oktober 2015. Alhamdulillah Februari 2016 sudah bisa tidur di rumah sendiri. Yeeaaayyy!!
Selama beberapa bulan tersebut, ada saja rezeki untuk niat kami punya rumah. Yah, gak 100% uang hasil jerih payah sendiri sih, ada hutang juga.
90% Rumah kami
Hah?! 90% masih kayak gitu??? iyaa...memang kami bangunnya kecil gitu. Cuma 1 bedroom, 1 KM dan dapur. Selebihnya bisa buat gulung-gulung outdoor. Hahaa
Sengaja kami bikin seperti itu, yang penting bisa buat tidur, urusan KM, makan, sholat. Kami sudah sangat bersyukur. Kami bangun nanti secara bertahap sesuai kebutuhan dan tabungan.
Eits, tapi jangan salah. Pembangunan kami yang kecil tersebut menghabiskan kurang lebih 125jt loh. Gimana bisa? lets see the outline:
- Pengurugan tanah untuk jalan dan nombok urunan jalan dari kavling yang tidak mau bayar.
- Pengurugan tanah untuk tanah kami
- Pondasi keliling 5x20 dengan kualitas struktur untuk 2 lantai
- Pembangunan rumah 5x5m2
Sudah bisa bayangkan toh nilainya..

This is it! Rumah Baru Kayu Tua di waktu senja.
View dari depan Rumah Baru Kayu Tua
Jadi, mengapa kami namakan Rumah Baru Kayu Tua?
Sesuai dengan namanya, rumah ini adalah rumah baru bagi kami. Tapi bahan-bahannya sebagian besar menggunakan kayu jati tua bekas bongkaran rumah lama yang dibangun orang tua. Genteng pun juga memakai genteng bekas. Pagar kayu, pola lantai teras, kusen dll yang berbahan kayu kami gunakan kayu bekas tersebut. Alhamdulillah seninya dapat, hematnya juga dapat. And also the happiness.

See you on Rumah Baru Kayu Tua part 2

Monday, July 30, 2018

First Time

There is always "First time" to do something.
Seperti yang saya lakukan saat ini.

Hari ini adalah pertama kalinya saya menjemput Mas Ajmal sekolah dengan motor bersama adek Mahir (may be next time i will post about him) sendiri.

Hari ini adalah pertama kalinya saya menulis kembali setelah sekian lama (lebih dari setahun) tidak menulis di blog.

Tidak mudah rasanya memulai menulis kembali di blog yang baru recovery karena sempat hilang. Karena merasa kehilangan dengan tulisan, foto dan memori di blog saya ini, akhirnya saya tekadkan untuk mengembalikan domain multimehdia.net kembali. Setelah ini saya harus bisa kembali rutin menulis. Mari kita awali dengan kata Bismillahirrahmanirrahiiimm :))

Jadi mungkin posting perdana ini tidak begitu panjang ya, karena masih pemanasan. Hehee

Dua minggu yang lalu adalah hari pertama Ajmal sekolah. Masih Play Group, tapi sudah bisa dibilang sekolah kan?
Dua minggu itu pula adalah hari pertama saya mengantar anak sekolah. Sebelumnya saya yang deg-degan kalau anak mau sekolah. Merasa harus siap segalanya di pagi hari. Sarapan, bekal anak, mandiin anak-anak lalu mengantar anak sekolah.
Belum lagi, masih awal sekolah, Ajmal gak mau ditinggal Jadi harus menunggu hingga sekolah berakhir. Si adek harus berkorban dulu saya tinggal beberapa jam untuk nungguin kakaknya. Ayah juga ikut berkorban telat kerja karena nungguin adek sampai bunda dan Ajmal pulang. Dan ini adalah minggu ke-3 Ajmal sekolah dengan hanya diantar hingga baris di halaman sekolah. Alhamdulillah less drama. Nangis bentar katanya cari Bunda, setelah itu fine fine saja. Good Job Ajmal! Good Job, Bunda..sudah berhasil meninggalkan anak sekolah tanpa ditunggu!

Ternyata setelah dijalani, everything is ok. Tidak harus sempurna untuk jadi ibu yang baik. Pagiku tidak harus sempurna dengan siap segalanya sebelum Ajmal sekolah.
Thanks Ayah sudah siap membantu Bunda di pagi yang sibuk :)

Wednesday, August 31, 2016

Menabung Sampah ala Warga Rewwin

Siapa yang mengira jika sampah yang disia-siakan itu bisa membuat kita pergi liburan ke luar pulau? Para penduduk warga Rewwin pun tidak mengira jika sampah yang mereka kumpulkan memberikan keuntungan yang diluar dugaan. Misalnya saja warga RT 16 RW 06 Komplek perumahan Rewwin Sidoarjo ini beberapa tahun lalu berwisata bersama ke Pulau Bali. Biayanya dari hasil sampah yang mereka kumpulkan. Satu RT tersebut menaungi kurang lebih 60 kepala keluarga. Bayangkan berapa uang yang dihasilkan oleh mereka dari sampah tersebut. Tidak hanya satu RT ini saja yang melakukannya, tapi seluruh RT di RW 06 perumahan Rewwin. Wow!

Rewwin sendiri adalah kepanjangan dari Real Estate Wisma Waru Indah yang berlokasi di kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. RW 06 dihuni 900an penduduk. Dalam satu RW ini, jika dihitung dari sampah yang terkumpul di balai RW, setiap bulannya ada lebih dari 3 ton sampah di sana. Dari pengelolaan sampah yang mereka lakukan, rata-rata per-bulan mereka bisa menghasilkan 15 juta rupiah. Pemasukan ini hanya dari sampah, belum pemasukan dari fasum (fasilitas umum) yang mereka sewakan untuk kegiatan pasar, kompetisi burung dan lainnya. Hebatnya lagi, pengelolaan sampah tersebut dikelola oleh karang taruna dan warganya langsung. RKBS (Rewwin Kawasan Bebas Sampah), program yang mereka jalankan secara continue. Banyak prestasi yang mereka peroleh dari kegiatan lingkungan ini.
Rumah Kompos Rukun Sejati yang berada di balai RW 06 Rewwin
Pengolahan sampah yang sudah menggunakan mesin untuk mengolah ribuan sampah
Sebagian pupuk kompos yang sudah dihasilkan rumah kompos Rukun Sejati
Aktivitas warga Rewwin ini perlu diacungi jempol dan layak untuk dijadikan contoh bagi warga lainnya. Menurut Advan, salah satu warga RT 16 RW 06, mereka sudah memulai kegiatan menabung sampah lebih dari empat tahun belakangan. Awalnya hanya beberapa warga saja yang berpartisipasi di setiap RT-nya. Mereka memilah sampah yang bisa didaur ulang dan sampah yang tidak bisa didaur ulang. Dosen ini pun bercerita bahwa dirinya adalah pendatang baru di area ini dari tahun 2009. Ia dan keluarganya sudah diberikan arahan dari ketua RT sejak awal mengenai pengelolaan sampah. Bahkan setiap warga mempunyai buku tata cara memilah dan mengolah sampah di lingkungannya.
Komposter di beberapa titik RT 16
Setiap harinya, sampah dari sisa makanan mereka masukkan ke komposter yang sudah disediakan di beberapa titik RT agar bisa terurai kembali dan menjadi pupuk. Jika tidak dimasukkan ke komposter, mereka buang di bak sampah masing-masing dan akan diambil oleh petugas kebersihan untuk dikumpulkan di bank sampah yang ada di balai RW. Sehingga tidak ada sampah yang sia-sia di wilayah ini. Pengambilan sampah basah tersebut dilakukan dua kali setiap minggu, selasa dan kamis. Nah, untuk sampah yang tidak bisa terurai lagi, mereka kumpulkan untuk dijual kembali secara kelompok. Masing-masing RT punya kebijakan sendiri soal ini. Di RT 16 misalnya, masing-masing rumah tangga mengumpulkan sampah kardus, kertas, botol kaca, plastik dan sejenisnya untuk disetorkan ke balai RT di hari Minggu terakhir setiap bulan. Setiap warga yang menyetorkan menulis sendiri namanya di buku yang sudah disiapkan.

Buku yang disediakan untuk menulis nama warga yang mengumpulkan sampah di balai RT
Warga silih berganti datang ke balai RT 16 mengumpulkan sampah yang bisa dijual kembali
Jenis sampah botol plastik dan botol kaca yang ikut dikumpulkan
Sebagian sampah kardus yang terkumpul
Tanpa dikomando, para ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK datang dan bergabung di balai RT untuk memilah sampah, menimbang dan dilanjutkan mencatatnya. Ibu-ibu ini nantinya bergantian dengan ibu-ibu lainnya hingga pekerjaan mereka selesai dalam satu hari tersebut. Tidak lupa ada minuman dan makanan untuk camilan saat bekerja. Semuanya dilakukan secara sukarela. Nantinya akan ada pengepul yang datang untuk membeli sampah-sampah mereka. Masing-masing nama yang tercatat di buku tadi, memiliki buku tabungan sendiri dari hasil sampah yang mereka setorkan. Hasilnya bisa mencapai jutaan setiap bulannya. Dari sinilah uang operasional liburan mereka berasal. Tidak hanya untuk liburan, uang tersebut mampu membiayai operasional kegiatan kampung loh.
Ibu-ibu RT 16 RW 06 Rewwin memilah, menimbang dan melakukan pencatatan sampah yang sudah dikumpulkan
Menurut Advan, pada tahun 2012 inovasi daerah yang mereka lakukan ini mulai terdengar luas hingga akhirnya ada dukungan dari Unilever Tbk. Warga yang memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah mendapatkan produk Unilever sesuai dengan banyaknya sampah yang mereka setorkan. Jadi, para warga di RT 16 ini hampir tiap bulan tidak pernah membeli sabun dan peralatan mandi produk Unilever. Lumayan sekali untuk menghemat pengeluaran rumah tangga mereka. 

Adanya bank sampah di perumahan Rewwin ini terbilang cukup baru, namun sudah banyak pengunjung dari kampung lain, luar kota, bahkan luar negeri yang tertarik untuk mengetahui prosesnya dan ingin belajar langsung dari para warga Rewwin. Kegiatan positif di komplek perumahan ini adalah salah satu bentuk peningkatan kualitas hidup warga baik dari segi sosial dan lingkungan. Keberadaanya juga merupakan kabar baik untuk Indonesia bahwa masih banyak warganya yang peduli akan sustainability lingkungannya.


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Wednesday, August 24, 2016

Tempe Tenggilis, Tempe Unggulan Lintas Generasi Kampung Tempe Surabaya

"Kamu makannya apa?"
"Tempe!"
"Saya juru masaknya"
"Okee!"
"Ada tempe goreng, ada tahu goreng, semuanya digoreng..oseng..oseng..oseng.."

Siapa generasi 90an yang tidak mengenal lirik di atas? Lagu anak-anak yang Indonesia sekali menurut saya. Sampai sekarang lagu tersebut masih sering dinyanyikan oleh ibu-ibu yang mengajari anaknya makan tempe. Bahkan saya yang sekarang sudah menjadi seorang ibu, kadang tidak sadar menyanyikan lagu itu waktu bernyanyi dengan anak saya. Maklum, saya kan jebolan ibu dari tahun 90an :) 

Tahu dan tempe memang sudah dikenal sebagai makanan khas Indonesia, terutama tempe. Sampai diekspor ke negara-negara lain. Kemasannya beragam, dari yang plastik hingga kaleng untuk melindungi teksturnya utuh ketika dikirim hingga bisa dinikmati seperti bentuk umumnya di Indonesia.
Hmm..ternyata, tempe yang sudah melanglang buana dan hampir tiap hari kami nikmati tersebut ada yang diproduksi di Surabaya. Nama kampungnya adalah Kampung Tempe Tenggilis. Lokasinya berada di Jl. Tenggilis Kauman, Surabaya. Lebih dari 200 pengrajin tempe yang berada di Tenggilis, namun hanya 30 pengrajin yang aktif dalam binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Surabaya. Keberadaannya menyebar di beberapa gang di wilayah Tenggilis. Salah satu gang yang cukup memperlihatkan aktivitas pembuatan tempenya adalah Tenggilis Kauman Gang Buntu 27 RT 04 RW III. Ada penanda di depan gerbangnya bahwa kampung tersebut adalah kampung tempe. Sudah cukup banyak pengunjung dari luar kota hingga luar negeri yang ingin melihat langsung proses pembuatan tempe di kampung ini. Adanya kampung ini adalah satu kabar baik untuk Indonesia sebagai bentuk pelestarian kampung yang berpotensi untuk dikembangkan.
Gang Buntu 27 yang menjadi ikon Kampung Tempe
Pertama memasuki kampung tempe ini, kita disambut dengan deretan mural tentang tempe yang berwarna-warni. Mural-mural tersebut menggambarkan tempe yang menjadi makanan favorit orang-orang, tentang kampung tempe yang mendukung kelestarian kampung di Surabaya, tempe yang mendunia dan gambaran lain yang menarik perhatian pengunjung.
Mural Penanda Kampung Tempe
Kampung Tempe turut mendukung program Surabaya Green and Clean

 
Mural yang berada di depan rumah Nur Hasan
Di gang buntu ini, ada lima pengrajin tempe. Dua di antaranya adalah warga asli kampung tersebut dan meneruskan usaha generasi sebelumnya. Saya menemui salah seorang dari mereka, Bapak Nur Hasan namanya. Beliau adalah generasi ketiga dari pembuat tempe yang asli dari kampung Tenggilis. Rumahnya tepat di depan mural yang menggambarkan tempe yang dicintai orang-orang di segala penjuru dunia dan ditandai dengan adanya barisan papan kayu berisi kedelai di terasnya. Menurut beliau, produksi tempe miliknya ini sudah dimulai dari tahun 1970an. Produksi tempe yang dulunya masih menggunakan cara tradisional, sekarang beberapa pengrajin sudah berinovasi dengan menggunakan mesin pengupas kedelai. Awalnya, usaha tempe ini dikerjakan sendiri dan keluarga. Namun seiring meningkatnya jumlah permintaan, butuh lebih banyak tenaga untuk memenuhinya. Sekarang, ia sudah mempunyai belasan karyawan untuk membantunya. Ya, bapak 53 tahun ini masih ikut mengerjakan sendiri meskipun sudah mempunyai karyawan. Para karyawan tersebut berasal dari wilayah sekitar dan kampung lain.

Produksi tempe miliknya sudah menyebar ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Ia memiliki pelanggan tetap yang menjual tempenya. Sayangnya kita tidak bisa membeli produk tempe secara ecer di sini. Semua produksinya sudah pesanan para distributor tempe di pasar-pasar.
 
Nur Hasan mengakui, dengan adanya kerjasama dengan Disperindag, usahanya menjadi lebih berkembang dari sebelumnya. Misalnya saja keripik tempe yang dibuatnya awalnya hanya berada di meja warung-warung dengan kemasan kecil dan diplastik seadanya. Setelah dibina, keripik tempenya mulai mendapatkan perhatian distributor oleh-oleh dengan kemasan yang menarik sehingga pemasukan usahanya meningkat. Produksi tempe mentahnya pun demikian. Sebelumnya pengolahan kedelai menjadi tempe menggunakan air yang kurang sehat, setelah mendapatkan pembinaan dari Dinas perdagangan dan perindustrian serta bantuan dana dari Bank Indonesia, tempe milik bapak Nur Hasan layak dikonsumsi sebagai makanan sehat warga Surabaya dan sekitarnya. 

Jika dilihat dari tempe-tempe yang sedang dibariskan di depan rumahnya, jumlahnya cukup banyak dibandingkan dengan produksi tempe pengrajin lainnya di daerah Tenggilis. Setiap harinya, Bapak Nur Hasan memproduksi kurang lebih tiga kuintal kedelai yang akan dijadikan tempe.
Barisan tempe yang sedang diragi di teras rumah Nur Hasan
Nur Hasan sedang menata tempe-tempe produksinya

Proses pembuatan dari kedelai dicuci hingga menjadi tempe yaitu empat hari empat malam. Hmm, cukup lama juga ya. Mulanya, kedelai dicuci hingga bersih dan terpisah dari biji-bijian selain kedelai, kemudian direbus untuk menghilangkan kotoran dan bakteri. Lalu, kedelai yang telah bersih direndam semalaman. Setelah kulit kedelai cukup lunak, baru kedelai dikupas dan dicuci kembali baru kemudian diberi ragi dan didiamkan selama dua malam. Proses cetaknya sendiri cukup cepat. Ada yang dibungkus daun pisang dan dibungkus plastik hingga akhirnya diambil oleh para penjual tempe.
Sepeda pedagang tempe yang akan mengambil tempe di kampung ini
Dulu, sisa tempe yang tidak terambil oleh distributor tempe terbuang sia-sia. Para pengrajin mulai berpikir untuk memproduksi hasil olahan tempe, salah satunya adalah keripik tempe yang saat ini sudah menyebar di beberapa pusat oleh-oleh di Surabaya. Setelah dibuat keripik tempe dan olahan lainnya, sisa tempe tersebut malah menghasilkan uang. Para pengrajin tempe di wilayah ini masih terus berinovasi untuk melestarikan dan mengembangkan kampungnya agar tetap menjadi kampung unggulan. Aktivitas produksi tempe di Kampung Tempe ini masih akan terus berlanjut lintas generasi yang layak menjadi contoh inovasi daerah bagi kampung lain di Indonesia.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku