Friday, February 22, 2013

Bersekolah Kembali di Kelas Inspirasi

Tertidur! Haha.. Sering ngalamin ini juga? Foto: Adiar Ersti
Maen Petak Umpet sebelum masuk kelas. Foto: Mehdia
It takes more than 16 years for me to finish a formal education. But only a few times, not even close to 365 days, to get closer to my teachers. Dan saya menyesal sangat jarang sekali mendoakan mereka di setiap doa seperti saya mendoakan orang tua saya.

Tepat beberapa hari sebelum hari H Kelas Inspirasi, Ayah sempat mengingatkan kami untuk mengkhususkan doa kepada seseorang, siapa pun itu, yang kami anggap berjasa dalam hidup. Misalnya orang yang pertama kali mengajari membaca bismillah, orang yang pertama kali bisa membuat kami menulis, orang pertama yang mengingatkan kami untuk meminta maaf ketika salah, dan sebagainya. Siapa pun itu, jika orang itu memberikan kontribusi positif dalam hidup kita, we should do something good for him/her too. Harus!

Guruku, Inspiratorku.
Ternyata kata-kata itu bagi para guru bisa jadi terbalik. Muridku, Inspiratorku.
Di Kelas Inspirasi kemarin, saya menjadi guru sehari. Ada yang menyebut kami sebagai para inspirator. Di kelas itu, saya menjadi bisa berkata, "Muridku, Inspiratorku." Saya kembali bersekolah. Saya kembali mendapat banyak pelajaran. Saya kembali mendapat inspirasi.
Puisi "Guru" di mading SDN Kedung Cowek I
Puisinya mengharukan
Saya kebagian mengajar di kelas yang "super heboh" kata beberapa guru yang saya temui di saat survey sebelum mengajar. Saya malah tertantang melihat tingkah para siswa kelas 5A SDN Kedung Cowek I Surabaya tersebut. "Hmm..apa yang harus saya siapkan untuk mencuri perhatian mereka nanti ya?" pikiran tersebut terus terngiang hingga H-1 Kelas Inspirasi. Sebelumnya saya mendapat bocoran dari Bu Ningsih, wali kelas mereka,  bahwa mereka bisa agak "anteng" dengan menggunakan LCD. Fine! Salah satu ide muncul, saya akan putarkan slide foto dan video untuk mereka. Ide kedua muncul, saya akan menggunakan media maket untuk membantu saya menjelaskan profesi Interior Designer. Masalahnya, Tugas Akhir kuliah saya bukan berkonsentrasi ke sana. Tugas Akhir saya fokus ke perilaku pelaku desain, bukan desainnya. Tapi saya beruntung, dua sahabat saya, Nesya dan Vinca, Tugas Akhirnya berkonsentrasi ke Interior yang saya geluti sekarang :D Terima kasih buat pinjaman maketnya Vinc..

Saya masih butuh ide yang lain untuk menghabiskan waktu mengajar selama 1 jam 15 menit. Ide terakhir baru muncul di sore hari Selasa, 19 Februari 2013, gak sampai 24 jam sebelum saya mengajar. Pilihannya waktu itu adalah melakukan workshop membuat pohon untuk maket atau membuat paper toys. Sempat kepikiran untuk mengajari mereka bermain The Sims. Di game itu kan ada kesempatan untuk menata rumah dan perabotnya. Pas banget dengan profesi saya. Tapi ternyata di The Sims juga ada pelajaran dewasa, seperti flirting, kiss, dkk :* aw..aw..aw..

Pilihan ide terakhir jatuh pada ide membuat paper toys. Alasannya, kalau saya putuskan bikin pohon, agak gak nyambung dengan interior, karena komponen pohon yang biasa saya buat dipakai di maket eksterior atau tapak. Peralatannya saya juga gak siap. Sedangkan paper toys, saya tinggal download pola dari internet dan siapkan gunting-lem. Timbul masalah lagi ternyata, karena keputusan itu muncul sudah cukup malam, saya belum beli gunting dan lem untuk mereka.. huhuhuuu :(
Mau gak mau sebelum berangkat pagi itu saya harus membelinya.
Beberapa Paper Toy yang saya dan teman-teman buat di sela kerja
Rumah saya di Siwalankerto, sedangkan SD Kedung Cowek di sebelah Suramadu, which is lokasinya sangat bertentangan. 40 menit lebih perjalanannya. Saya baru berangkat pukul 6.30 karena harus cari gunting dan lem dulu. Hoshhh!!! ngebut ke lokasi ngajar. Pukul 07.20 saya sampai di Kedung Cowek. Malu banget! Telat ngajar :(
Kelas Mbak Ade Kumala yang sudah mulai duluan :D Foto: Adiar Ersti
Pake Name tag, gak mau kalah sama pengajarnya.. Foto: Adiar Ersti
Saya tergopoh-gopoh membawa dua maket dan peralatan lainnya. Para siswa sudah cukup heran melihat saya yang berkeringat ngos-ngosan sambil bawa kotak-kotak maket. Setelah sudah siap semua, saya mulai memperkenalkan diri. 

"Selamat pagi, Adek-adek! Nama saya Mehdia."
"Maaf ya telat, tadi habis pemanasan dulu. Seperti Olahraga. Kalian sudah pemanasan belum?"

"Belooooommmm"

 "Yuk, pemanasan dulu dengan bernyanyi.."

Akhirnya saya ajak mereka dengan ice breaking mengkomposisi suara dan gerakan.
Maket Interior Vinca yang saya bawa :) Foto: Adiar Ersti
Saya berikan kesempatan mereka menebak terlebih dahulu kira-kira profesi saya apa, dengan menunjukkan maket-maket tadi. Eh, ternyata ada yang langsung tanggap. Arsitek!! Tapi saya jelaskan bahwa pekerjaan saya lebih spesifik ke Interior Design. Mereka tampak bingung, apa itu?
Saya jelaskan dengan foto-foto proses saya dan teman-teman bekerja dan saya sisipkan beberapa cerita di dalamnya.
Mereka seneng diputerin video, diajak praktek bareng. Foto: Syerly Ade
Hey...bersyukur sekali loh mereka cukup menyimak saya di depan. Memperhatikan apa yang saya sampaikan. Saya tidak menemui anak-anak yang "heboh" yang seperti gurunya bicarakan. Saya melihat keantusiasan di mata-mata bening mereka. Apalagi setelah saya ceritakan soal kegiatan yang bisa saya lakukan di sela-sela kerja. Bepergian ke luar kota karena pekerjaan, traveling gratis, hingga bermain vector dan membuat paper toys. Nah.. lalu saya tawarkan untuk membuat paper toys yang caranya sama dengan membuat bangun-bangun di matematika. Saya sampaikan bahwa membuat maket itu mudah, sama seperti membuat paper toys itu, memakai pola.
Konsen motongin paper toy. Foto: Syerly Ade
Mencoba meteran yang saya bawa. Foto: Syerly Ade
 Lesson plan yang saya gunakan ternyata berhasil! Mereka semangat sekali membuatnya..
Ada yang mengerjakan sendiri di pojok kelas, ada yang cuma melihat saja. Ada yang berebut lembaran paper toys. Macam-macam tingkah pola mereka. Maket-maket yang saya bawa mereka kerubungi dan menyentuhnya dengan heran. Ada yang bermain meteran yang saya tunjukkan untuk mengukur perabot di dalam kelas. Sempat sih terjadi beberapa perkelahian di antara mereka. Tapi menurut saya wajar, saya dulu juga seperti itu kok, bertengkar, berteriak, menaiki meja, dipanggil kepala sekolah, dan sebagainya :D Saya seperti bersekolah kembali bersama mereka.
Seheboh apa pun tingkah mereka, serame apa pun kelasnya, saya tetap tidak melihat sisi nakal mereka. Saya melihat keseruan di sana. Saya melihat mereka yang punya semangat tinggi. Saya melihat mereka yang masih polos. Spirit itu yang kita perlukan sebagai seorang dewasa. Energi dan semangat yang tinggi, tidak mudah menyerah jika menginginkan suatu hal.
Berkelompok membuat furniture paper toys. Foto: Ade Kumala

Oh, Man.. coba lihat ada yang berkelahi di sana. Ini terjadi beberapa kali loh.. haha Foto: Syerly Ade
Dua siswa ini seneng banget lihat Paper Toy-nya jadi. Meskipun gak tau nama tokohnya Yoda. Foto: Adiar Ersti
Mereka penasaran dengan maket-maket interior yang saya bawa. Foto: Adiar Ersti
Hemm..spechless :)) Foto: Adiar Ersti
Bu Guru Mehdia mengajari bikin paper toy mobil. Foto: Adiar Ersti
Kak. punyaku sudah jadi! Foto: Adiar Ersti
Ditarik siswa-siswa buat foto bareng.. Foto: Adiar Ersti
Help Me!! Aku terjepit di antara mereka :)) Foto: Adiar Ersti
Saya sisipkan beberapa pesan di cerita saya pada mereka bahwa mereka harus berani bermimpi, mereka harus menuliskan segala mimpi, cita-cita dan harapan mereka. Kemudian saya yakinkan bahwa semuanya pasti menjadi nyata kalau kita percaya dan berusaha.
Mereka pasang beberapa di jendela kelas. Sweet :)
Furniture Paper Toys yang berhasil mereka buat.
"Kak, paper toy ini carinya dimana?"
"Kak, lain kali kalau ke sini lagi bawa paper toy yang banyak ya"
Lain kali saya pasti akan kembali ke sana, dan mungkin tidak hanya di SD Kedung Cowek saja, mungkin SD-SD yang lainnya :)
Kedung Cowek Team. Complete! Bareng Kepala sekolah dan beberapa guru.
Setengah hari berada di antara mereka ternyata membuat saya tepar di malam harinya. Saya membayangkan bagaimana para guru bisa bersabar dan setia mengajar.

Guruku, Inspiratorku.
Muridku, Inspiratorku.

Dari dulu saya percaya bahwa pendidikan itu tidak hanya kita dapat di sekolah, tapi di setiap momen kehidupan. Selama kita hidup, selama itu pula proses belajar-mengajar terjadi. Keep Inspiring, guys!

"Langkah menjadi panutan, Ujar menjadi pengetahuan, Pengalaman menjadi Inspirasi"

10 comments:

  1. Replies
    1. iin muryaningsihMarch 5, 2013 at 9:03 PM

      kapan ya kak ke sekolah kami lagi, anak anak ada yang nanyakan kakak tuh..........

      Delete
    2. hehee..seneng dengernya. Iya bu, saya ada rencana ke sana lagi kok, tapi belum bisa dalam waktu dekat ini :) Salam buat adek-adek ya bu..

      Delete
  2. kereeeennn,,,,,,,,mbak mehdia,,,jd inget dl ngajar pramuka di SD,,macem2 tingkah pola mereka,,pendidikan sangat penting buat bekal mereka kelak, kehidupan selanjutnya ada di tangan mereka kelak, mau d bawa kemana.. :)
    sukses terus,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Ipeh :)
      Bener banget, kalau bisa membantu mereka bermimpi sekarang, berarti kita juga ikut bantu masa depan mereka :D

      Delete
  3. keren! pengalaman tak terlupakan. berharap dari sd kedung cowek ada arsitek/interior desainer yg muncul karena terinspirasi sama kamu, Mehdia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Kita semua berharap mereka bisa bermanfaat buat sekitarnya ya mbak..

      Delete
  4. wuih keren banget mbak pengalamannya sehari di kelas inspirasi!
    palagi mreka sampai bs membuat toys2 seperti itu. bnr2 jd kreatif murid2nya ^^

    mbak juga berdomisili di sby ya? daerah mana?
    salam kenal ya. mampir2 ke blog saya.
    ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Ina :)
      Cuma bisa mengajari sedikit, semoga mereka bisa terus kreatif nantinya..

      Iya, domisili Surabaya. Daerah Surabaya Timur, A.yani mbak. Sudah mampir tuh, blognya oke ya :D

      Delete